Home / Berita utama / Hukrim / KPK / News / TNI POLRI

Minggu, 17 Maret 2024 - 12:38 WIB

Panganan Jemunak Dan Filosofi Nikmatnya Berpuasa Ramadan Dari Magelang

Panganan Jemunak Dan Filosofi Nikmatnya Berpuasa Ramadan Dari Magelang

Panganan Jemunak Dan Filosofi Nikmatnya Berpuasa Ramadan Dari Magelang

 

MAGELANG|mediakpk.com| Satu lagi jajanan tradisional di Jawa Tengah yang ada hanya saat bulan Ramadan tiba. Namanya jemunak, makanan takjil dari Desa Gunungpring, Muntilan, Magelang.

Selain hanya dapat dijumpai saat Ramadan, keunikan jemunak adalah cara membuatnya yang masih menggunakan peralatan tradisional. Ketela pohon diparut lebih dulu sebelum dikukus setengah matang. Lalu, dicampur dengan ketan dan kembali dikukus hingga matang.

Selanjutnya, ditumbuk menggunakan lumpang batu dan alu dari kayu. Barulah disajikan di atas daun pisang dengan ditaburi parutan kelapa dan juruh (gula merah cair).

Bukan sekadar panganan, kemunculan jemunak yang sudah turun temurun itu menyimpan filosofi bagi masyarakat. Yakni, keikhlasan bagi orang yang berpuasa akan membuahkan berkah.

Sehingga nama jemunak lahir dari kalimat “ujung-ujung ketemu penak”, artinya “pada akhirnya akan menemui kenikmatan”.

Salah seorang pembuat jemunak di Desa Gunungpring, Ponisih mengungkapkan, tidak lengkap kalau buka puasa tanpa jemunak.

“Ujung-ujung ketemu penak itu maksudnya ya setelah puasa seharian, nantinya akan dapat kenikmatan saat berbuka,” ujarnya, saat ditemui beberapa hari lalu.

Ponisih adalah generasi ke lima yang memproduksi jemunak di keluarganya. Namun, ia hanya berproduksi jika Ramadan tiba. Di luar itu, ia tidak berproduksi sekalipun mendapat pesanan dari masyarakat.

“Ya saat puasa saja, kalau tidak ya tidak buat. Kalau ada pesanan di luar bulan puasa saya tolak,” tegasnya.

Menurut Ponisih, jemunak menjadi sajian “wajib” terutama bagi masyarakat Gunungpring saat berbuka puasa. Buktinya, hingga saat ini, ia tidak pernah sepi dari permintaan membuat jamunak.

“Tiap hari menghabiskan 25 kilogram ketela. Itu kalo diolah menjadi sekitar 700 bungkus,” paparnya.

Dalam berproduksi, Ponisih dibantu oleh adiknya, Kasmirah, dan anaknya, Danu Supriyanto.

“Untuk satu bungkusnya kita jual Rp3.000,” ungkapnya.

Ponisih mengaku, Sultan dari Keraton Yogyakarta pernah memesan jemunak padanya.

“Waktu itu ada acara kuliner di Gunungpring, ada utusan dari Yogya, selang berapa hari itu kok minta (dibuatkan). Lupa (pesan) berapa ya, tapi sepertinya cuma untuk konsumsi pribadi,” tandasnya

/Red

Share :

Baca Juga

Berita utama

Tembus Medan Terjal Lereng Ijen, Tim Gabungan Padamkan Karhutla di Jampit Bondowoso

Berita utama

CANGKRUKAN KAMTIBMAS KAPOLRES TANJUNG PERAK BERSAMA PERGURUAN SILAT UNTUK PEMILU 2024 AMAN DAN DAMAI

Berita utama

Klinik Pratama Polres Tanjung Perak Gelar Safari Kesehatan Petugas Pelaksana Pemilu di PPK

Berita utama

Satgas Gulbencal Kodam I/BB Bersama Yonif TP 905/TS Berjalan Kaki Salurkan Logistik ke Desa Bonan Dolok

Berita utama

Patroli Perintis Presisi Polrestabes Amankan Remaja Hendak Perang Sarung

Berita utama

Pemkab HST dan Kodim 1002/HST Gelar Nobar Piala Dunia, Warga Padati Taman Dwi Warna

Berita utama

Dampingi Bupati Banjar Dandim Ucapkan Selamat Atas Dilantiknya Kades PAW Desa Aranio Dan Mataraman

Berita utama

Satgas TMMD Ke-129 Gotong Royong Bersihkan Halaman Poskamling di Desa Tempapan Hulu